Tuesday, 9 January 2018

Pesona Tana Toraja

Pesona Tana Toraja

Kabupaten Tana Toraja adalah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Ibu Kota Kabupaten ini adalah Makale yang memiliki luas wilayah 3.203 km² dan berpenduduk sebanyak ±221 .081 jiwa (data tahun 2010). Di Kabupaten Tana Toraja memang sangat dikenal luas baik Nasional maupun Mancanegara karena masyarakat asli Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan, mempertahankan gaya hidup yang khas, masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang mirip dengan budaya Nias dan serta dikenal akan keindahan wisata alamnya. Perjalanan ke obyek wisata ini membutuhkan waktu 8-10 jam perjalanan dari Makassar.  Jangan khawatir dengan waktu tempuh yang cukup lama, karena di sepanjang perjalanan kita dapat menikmati pemandangan indah berupa perbukitan hijau yang dapat menghilangkan rasa penat.


                    ini lah potret perjalanan selama kurang lebih 10 jam menuju Tana Toraja :



(Gunung Nona) 









Di Tana Toraja kita bisa menikmati berbagai Objek Wisata diantaranya :

Pallawa


Tongkonan Pallawa merupakan salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik. Tongkonan Pallawa dibuat di antara pohon bambu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat.

Londa





Tempat wisata selanjutnya yang bisa Anda kunjungi adalah Londa. Londa merupakan bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Disana Anda bisa melihat berbagai macam peti diatur sesuai dengan garis keluarga, memang mungkin banyak diantara Anda yang menganggap tempat tersebut menyeramkan, tetapi untuk Anda yang senang untuk mencari berbagai budaya yang ada di Indonesia Anda harus datang ke tempat wisata yang satu ini.

 Ke’te Kesu





Salah satu tempat wisata yang wajib Anda kunjungi adalah Ke’te Kesu. Yang mempesona dari tempat wisata yang satu ini adalah berupa Tongkonan. Selain banyak sekali rumah adat yang berjajar, ada juga kuburan tebing dan kuburan bergantung, dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan yang satu ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya.

 Batu Tumonga




Tempat wisata selanjutnya yang bisa Anda kunjungi untuk menambah pegetahuan mengenai budaya di Tana Toraja adalah Batu Tumonga. Di tempat wisata yang satu ini Anda disuguhkan dengan banyaknya bebatuan yang sangat menarik dan indah. Disana juga Anda akan melihat keindahan rantepau dan lembah sekitarnya.

 Lemo



Tempat wisata selanjutnya yang bisa Anda kunjungi adalah Lemo. Lemo merupakan tempat yang sering disebut sebagai rumah para arwah. Di sana Anda bisa melihat mayat yang disimpan di udara terbuka, ditengah bebatuan yang curam. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat yang ada akan diganti dengan melalui upacara Ma Nene.

Lolai, Negeri Di atas awan




Kampung ini memiliki gugusan pegunungan yang beberapa puncaknya bisa dijangkau dan saat berada di lokasi tersebut tersaji hamparan awan di sekeliling puncak pegunungan di Kampung Lolai tersebut.
Berada di puncak Lolai dengan hamparan awan yang terlihat lebih rendah dari puncak seolah kita berada negeri di atas awan. Gugusan awan putih yang dihiasi pancaran sinar matahari di balik awan menimbulkaan keindahan alam yang sangat indah di mata.

Patung Yesus





Tempat wisata rohani itu dibangun di puncak Bukit Buntu Burake, Makale, Tana Toraja. Kabupaten Tana Toraja telah mencatatkan sejarah setelah rampung membangun patung Yesus raksasa. Bahkan patung ini disebut-sebut menjadi patung Yesus tertinggi di dunia mengalahkan patung Yesus Sang Penebus yang ada di Rio de Janeiro, Brasil.









For details/reservation /private trip arrangement please mail to

magerparadise30@gmail.com

WA : 081311054122
Ig    : @magerparadise



Monday, 1 January 2018

Kete’ Kesu


(Peta Toraja)





Kete’ Kesu merupakan salah satu desa wisata terkenal yang terletak di Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Perjalanan ke obyek wisata ini membutuhkan waktu 8-10 jam perjalanan dari Makassar. Jangan khawatir dengan waktu tempuh yang cukup lama, karena di sepanjang perjalanan kita dapat menikmati pemandangan indah berupa perbukitan hijau yang dapat menghilangkan rasa penat. Di desa wisata Kete’ Kesu pengunjung disuguhkan kehidupan asli masyarakat Tana Toraja. Mulai dari barisan rumah adat Tongkonan hingga tebing yang berfungsi sebagai pemakaman. Pemakaman ini dikenal dengan nama Bukit Buntu Kesu. Hamparan sawah yang luas serta udara sejuk pegunungan menambah daya tarik tersendiri bagi desa wisata ini.


Pengunjung dikenakan biaya Rp.10.000 per orang. Harga yang sangat terjangkau tentunya. Ketika masuk, kita dapat langsung melihat barisan rumah adat Tana Toraja yaitu Rumah Tongkonan dengan lumbung padi di hadapannya. Beberapa penghuni rumah juga terlihat saling bercengkerama di pelataran rumah. Rumah-rumah Tongkonan di desa ini diperkirakan sudah berumur 300 tahun dan diwariskan secara turun temurun. Dinding-dinding Tongkonan dihiasi dengan ukiran dan juga tanduk kerbau. Tanduk kerbau mewakili status sosial pemilik rumah. Semakin banyak atau tinggi tanduk kerbau yang dipajang, berarti semakin tinggi pula status sosial pemilik rumah tersebut. Rumah Tongkonan di sini juga dibangun menghadap ke Timur dengan alasan bahwa masyarakat Toraja menganggap arwah leluhur mereka menetap di Timur. Salah satu dari Rumah Tongkonan tersebut dijadikan museum yang memperlihatkan peninggalan-peninggalan bersejarah mulai dari kerajinan keramik dari Cina, patung-patung, hingga senjata tradisional. Ada juga sebuah kandang yang berisi seekor kerbau belang. Kerbau belang merupakan hewan yang disakralkan oleh masyarakat Tana Toraja dan biasanya digunakan pada upacara pemakaman. Harganya sangatlah mahal, dari puluhan hingga ratusan juta rupiah per ekor. Masyarakat percaya bahwa dengan menyembelih kerbau belang ini, maka arwah akan cepat sampai di alam akhirat (puya) atau nirwana.
Tidak jauh dari barisan Rumah Tongkonan, terdapat sebuah bukit berbatu yang terlihat sangat menyeramkan. Bukit berbatu ini merupakan bagian paling menarik di Kete’ Kesu. Bukit berbatu yang menyerupai tebing tersebut adalah Bukit Buntu Kesu. Bukit Buntu Kesu merupakan sebuah situs pemakaman kuno di desa ini. Pemakaman kuno ini diperkirakan berusia 600 tahun. Bukit dilengkapi dengan gua-gua yang diisi peti mati berbentuk kapal kano. Peti mati dibuat dari bahan kayu dilengkapi dengan berbagai macam ukiran. Menurut tradisi, masyarakat dengan status sosial lebih tinggi dimakamkan di lubang yang lebih tinggi, sementara rakyat jelata diistirahatkan di kaki bukit begitu saja tanpa diletakkan di dalam peti. Tulang belulang yang berusia puluhan bahkan ratusan tahun pun dapat kita lihat dengan jelas berserakan di kaki bukit. Kondisinya ada yang masih utuh, adapula yang sudah berserakan dimana-mana. Yang saya herankan, bagaimana keluarga mendiang dapat mengenali anggota tubuh keluarganya itu. Masyarakat Toraja percaya bahwa semakin tinggi seseorang dimakamkan, semakin mudah jalan menuju alam akhirat atau nirwana. Di tebing ini kita juga dapat melihat beberapa Tau-Tau. Tau-Tau adalah patung yang dibuat sebagai simbol orang yang sudah mati. Patung-patung ini hanya dibuat untuk orang-orang dengan status social yang tinggi, karena untuk membuatnya saja keluarga mendiang harus menyembelih puluhan ekor kerbau terlebih dahulu. Beberapa Tau-Tau bahkan dihiasi dengan perhiasan seperti emas dan perak. Oleh sebab itu mereka diletakkan di dalam jeruji untuk menghindari dari pencurian. Sebelum naik ke atas bukit, kita akan bertemu beberapa tour guide yang akan membantu menjelaskan lebih detail mengenai bukit tersebut dan juga kehidupan masyarakat Toraja. Mereka tidak mematok harga, oleh karena itu kita dapat membayar seikhlasnya. Di mulut gua kita juga akan bertemu dengan warga yang menawarkan lampu, Mereka menyewakan  dengan harga Rp.50.000 per buah.